Amsal 22:24-25 | Bijak dalam Pergaulan - Pdt. Gerry Atje
pergaulan anak muda zaman sekarang
Syalom, ini kali pertamanya saya pelayanan di STIKes Immanuel, Bandung. (Perkenalan) ... Tema kita hari ini tentang pergaulan ya. Jujur, waktu saya tau temanya tentang pergaulan, satu-satunya yang kepikiran paling awal adalah emangnya kuliah perawat (atau nanti jadi perawat) masih sempet punya waktu bergaul?

Saya mau ngecek dua gambar ini beneran gak kejadian?

Bener-bener kejadian gak tuh?

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini kita diingatkan untuk selektif dalam memilih pergaulan apa yang mau kita ikuti dalam kehidupan kita ini. Kenapa? Karena ayat 25, supaya kita tidak menjadi terbiasa dengan tingkah lakunya yang buruk dan terjerat - terpengaruh hingga akhirnya merugikan diri kita sendiri.

Amsal 22:24-25
Jangan berteman dengan orang yang lekas gusar, jangan bergaul dengan seorang pemarah, supaya engkau jangan menjadi biasa dengan tingkah lakunya dan memasang jerat bagi dirimu sendiri.


Persoalannya adalah, jika merujuk pada tempat di mana kita bisa bergaul ... ini dibedakan menjadi dua ya:

1. Tempat pergaulan yang kita bisa memilih.

Yang ini prinsipnya sederhana sekali: gak suka ada di situ, ya gak usah gaul di situ. Ini sama seperti kayak kita punya teman yang lagi PDKT gitu, kita gak suka, ya gak usah dipacarin. Simple. Saya mau mengajak kita melihat sedikit ke Mazmur 1:1, karena di situ kita mendapatkan gambaran tentang bagaimana kita bisa memutuskan untuk ikut atau tidak dalam sebuah pergaulan.

Mazmur 1:1
Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,

Coba deh perhatikan urutannya:
a. Pertama, berjalan. Awalnya kita jalan melihat-lihat ... Kemudian ...
b. Kedua, berdiri. Kemudian kita mulai tertarik, kita berhenti sejenak melihat lebih dalam ... Lalu ...
c. Terakhir, duduk. Akhirnya kita mengambil keputusan untuk kita ikutan "nongkrong" disitu.

Ini saya mau curhat sedikit tentang teman-teman muda yang punya pergumulan dengan pasangan hidup ... Seandainya ada yang bergumul dengan calon pasangan hidup yang tidak seiman misalnya ... Itu bergaulnya di mana? Perbanyaklah pergaulan dengan teman-teman di gereja, di klasis, bahkan antar pemuda kristen ekumenis. Banyakin kegiatan supaya ketemu orangnya yang disediakan oleh Tuhan bagi kita.

Banyak juga orang muda yang berpikir dirinya bisa menerobos untuk mengubahkan situasi. Maksudnya, sudah tahu pergaulan di situ gak terlalu bagus, tapi tetap saja join di situ dengan pikiran bahwa dia bisa mengubah situasi.

Ya betul sih bagus niatannya ... Teringat juga tentang prinsip ikan asin: ikan selama hidup berada di air asin tapi gak jadi ikan asin, ikan bisa jadi asin karena ikannya sudah mati (maksudnya, selama kita bisa "hidup benar", kita tak akan terpengaruh lingkungan yang negatif). Akan tetapi jika memilih jalan seperti itu (menerobos masuk dan berada di lingkungan pergaulan yang buruk), sudah jelas perjuangannya butuh kerja keras. Salah-salah nanti maksud hati membawa perubahan yang baik, malah kita nya yang kebawa jadi bersikap buruk.

Sampai di sini, bijak memilih pergaulan selalu di mulai tepat ketika kita sudah mengenal situasi dan memutuskan untuk berada di situ dan tetap menjadi terang.

2. Tempat pergaulan yang kita tidak bisa memilih untuk tidak berada di sana.

Yang terakhir ini yang paling repot. Ketika tempat kita berada (bergaul) adalah tempat yang justru ternyata memiliki ... misalnya saja seperti pembacaan Alkitab kita hari ini: orang yang lekas gusar, orang yang pemarah.

Pasti pernah ya mengalami hal ini.
Di tempat kerja, punya bos (kepala ruangan) yang galak.
Di kuliahan, dosen killer.
Di gereja, ketemu dengan "yang suka bikin rusuh" terus.
Atau misalnya ... di rumah ... orang tua yang tidak memberi teladan ...

Gak bisa pasti kita pake pendekatan yang model pertama tadi kan: "gak suka, ya gak usah gaul di situ ... pergi aja". Lha emangnya kita bisa pergi dari keluarga kita? Gak ada mantan orang tua. Mau pindah sekolahan atau tempat kerja? Emang gampang pindah gitu? Mau pindah gereja? Ini gereja mendarah daging di hidup kita (paling jadi gak aktif).

Jadi kalau kita ternyata diberi kesempatan Tuhan berada di situasi yang seperti itu bagaimana dong? (sharing) ...

Paling tidak, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan di sini:
a. Tetap mendoakan, tetap berbuat baik (seperti ada ayat yang berkata: menaruh bara api di atas kepalanya) .. Syukur-syukur bila dengan perbuatan kita yang tetap baik, keadaan diubahkan menjadi lebih baik. Tetap menjaga hati kita supaya apa yang harus kita kerjakan, dapat kita kerjakan dengan baik juga, ini yang paling penting.
b. Jika memang kita sudah berusaha sedemikian rupa namun keadaan belum berubah, ya sudah, berarti kita yang belajar untuk memahami orang yang Tuhan tempatkan di dalam kehidupan kita itu sambil terus berjuang untuk melakukan point a yang di atas tadi.

Pada akhirnya, dalam situasi pergaulan yang kita tidak bisa memilih untuk kita tidak berada di sana, sikap bijak itu tercermin dalam seberapa mau dan mampu kita untuk memahami orang lain (dengan segala keberadaan diri mereka saat itu) yang mungkin tidak seperti yang kita bayangkan.

Ketimbang menuntut orang lain untuk mengubah ... misalnya: karakternya yang sudah begitu - kita tidak suka (dan kalau sudah bicara karakter orang, tentu memang sudah berubah) ... lebih baik kita yang berusaha untuk menjaga hati kita dengan cara memahami diri orang lain. Ini bukan terutama demi kebaikan mereka, tetapi terutama demi kebaikan kita sendiri.

Amsal 22:24-25 | Bijak dalam Pergaulan

pergaulan anak muda zaman sekarang
Syalom, ini kali pertamanya saya pelayanan di STIKes Immanuel, Bandung. (Perkenalan) ... Tema kita hari ini tentang pergaulan ya. Jujur, waktu saya tau temanya tentang pergaulan, satu-satunya yang kepikiran paling awal adalah emangnya kuliah perawat (atau nanti jadi perawat) masih sempet punya waktu bergaul?

Saya mau ngecek dua gambar ini beneran gak kejadian?

Bener-bener kejadian gak tuh?

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini kita diingatkan untuk selektif dalam memilih pergaulan apa yang mau kita ikuti dalam kehidupan kita ini. Kenapa? Karena ayat 25, supaya kita tidak menjadi terbiasa dengan tingkah lakunya yang buruk dan terjerat - terpengaruh hingga akhirnya merugikan diri kita sendiri.

Amsal 22:24-25
Jangan berteman dengan orang yang lekas gusar, jangan bergaul dengan seorang pemarah, supaya engkau jangan menjadi biasa dengan tingkah lakunya dan memasang jerat bagi dirimu sendiri.


Persoalannya adalah, jika merujuk pada tempat di mana kita bisa bergaul ... ini dibedakan menjadi dua ya:

1. Tempat pergaulan yang kita bisa memilih.

Yang ini prinsipnya sederhana sekali: gak suka ada di situ, ya gak usah gaul di situ. Ini sama seperti kayak kita punya teman yang lagi PDKT gitu, kita gak suka, ya gak usah dipacarin. Simple. Saya mau mengajak kita melihat sedikit ke Mazmur 1:1, karena di situ kita mendapatkan gambaran tentang bagaimana kita bisa memutuskan untuk ikut atau tidak dalam sebuah pergaulan.

Mazmur 1:1
Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,

Coba deh perhatikan urutannya:
a. Pertama, berjalan. Awalnya kita jalan melihat-lihat ... Kemudian ...
b. Kedua, berdiri. Kemudian kita mulai tertarik, kita berhenti sejenak melihat lebih dalam ... Lalu ...
c. Terakhir, duduk. Akhirnya kita mengambil keputusan untuk kita ikutan "nongkrong" disitu.

Ini saya mau curhat sedikit tentang teman-teman muda yang punya pergumulan dengan pasangan hidup ... Seandainya ada yang bergumul dengan calon pasangan hidup yang tidak seiman misalnya ... Itu bergaulnya di mana? Perbanyaklah pergaulan dengan teman-teman di gereja, di klasis, bahkan antar pemuda kristen ekumenis. Banyakin kegiatan supaya ketemu orangnya yang disediakan oleh Tuhan bagi kita.

Banyak juga orang muda yang berpikir dirinya bisa menerobos untuk mengubahkan situasi. Maksudnya, sudah tahu pergaulan di situ gak terlalu bagus, tapi tetap saja join di situ dengan pikiran bahwa dia bisa mengubah situasi.

Ya betul sih bagus niatannya ... Teringat juga tentang prinsip ikan asin: ikan selama hidup berada di air asin tapi gak jadi ikan asin, ikan bisa jadi asin karena ikannya sudah mati (maksudnya, selama kita bisa "hidup benar", kita tak akan terpengaruh lingkungan yang negatif). Akan tetapi jika memilih jalan seperti itu (menerobos masuk dan berada di lingkungan pergaulan yang buruk), sudah jelas perjuangannya butuh kerja keras. Salah-salah nanti maksud hati membawa perubahan yang baik, malah kita nya yang kebawa jadi bersikap buruk.

Sampai di sini, bijak memilih pergaulan selalu di mulai tepat ketika kita sudah mengenal situasi dan memutuskan untuk berada di situ dan tetap menjadi terang.

2. Tempat pergaulan yang kita tidak bisa memilih untuk tidak berada di sana.

Yang terakhir ini yang paling repot. Ketika tempat kita berada (bergaul) adalah tempat yang justru ternyata memiliki ... misalnya saja seperti pembacaan Alkitab kita hari ini: orang yang lekas gusar, orang yang pemarah.

Pasti pernah ya mengalami hal ini.
Di tempat kerja, punya bos (kepala ruangan) yang galak.
Di kuliahan, dosen killer.
Di gereja, ketemu dengan "yang suka bikin rusuh" terus.
Atau misalnya ... di rumah ... orang tua yang tidak memberi teladan ...

Gak bisa pasti kita pake pendekatan yang model pertama tadi kan: "gak suka, ya gak usah gaul di situ ... pergi aja". Lha emangnya kita bisa pergi dari keluarga kita? Gak ada mantan orang tua. Mau pindah sekolahan atau tempat kerja? Emang gampang pindah gitu? Mau pindah gereja? Ini gereja mendarah daging di hidup kita (paling jadi gak aktif).

Jadi kalau kita ternyata diberi kesempatan Tuhan berada di situasi yang seperti itu bagaimana dong? (sharing) ...

Paling tidak, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan di sini:
a. Tetap mendoakan, tetap berbuat baik (seperti ada ayat yang berkata: menaruh bara api di atas kepalanya) .. Syukur-syukur bila dengan perbuatan kita yang tetap baik, keadaan diubahkan menjadi lebih baik. Tetap menjaga hati kita supaya apa yang harus kita kerjakan, dapat kita kerjakan dengan baik juga, ini yang paling penting.
b. Jika memang kita sudah berusaha sedemikian rupa namun keadaan belum berubah, ya sudah, berarti kita yang belajar untuk memahami orang yang Tuhan tempatkan di dalam kehidupan kita itu sambil terus berjuang untuk melakukan point a yang di atas tadi.

Pada akhirnya, dalam situasi pergaulan yang kita tidak bisa memilih untuk kita tidak berada di sana, sikap bijak itu tercermin dalam seberapa mau dan mampu kita untuk memahami orang lain (dengan segala keberadaan diri mereka saat itu) yang mungkin tidak seperti yang kita bayangkan.

Ketimbang menuntut orang lain untuk mengubah ... misalnya: karakternya yang sudah begitu - kita tidak suka (dan kalau sudah bicara karakter orang, tentu memang sudah berubah) ... lebih baik kita yang berusaha untuk menjaga hati kita dengan cara memahami diri orang lain. Ini bukan terutama demi kebaikan mereka, tetapi terutama demi kebaikan kita sendiri.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER