Efesus 4:1-6 | Bukan Musuh - Pdt. Gerry Atje
bertengkar
Tema kita hari ini tentang perbedaan. Kita semua tahu bahwa yang namanya perbedaan adalah sesuatu yang tidak terelakkan. Sejak penciptaan, Tuhan memang sudah menciptakan perbedaan: ada laki-laki dan ada perempuan. Kalau begitu, perbedaan adalah sesuatu yang memang dirancangkan oleh Tuhan sendiri sebagai karunia dan anugerah bagi kita.

Akan tetapi sayangnya sejak awal juga kita tahu bahwa misalnya di Kejadian 11, tentang menara Babel, perbedaan juga bisa berarti (dalam tanda petik) "hukuman" bagi manusia: karena gak ada perbedaan (satu bangsa satu bahasa), orang jadi melawan Allah. Akhirnya Tuhan menciptakan tambahan perbedaan diantara manusia sejak saat itu.

Di zaman sekarang, memandang perbedaan sebagai karunia ataukah justru menjadi seperti "hukuman - kutuk" selalu menjadi pilihan yang harus kita ambil salah satunya dalam sebuah kebersamaan.

Saya mau ambil contoh yang sederhana pak bu ... Saya punya beberapa gambar:


Dari situ saja kita bisa jadi ribut karena perbedaan (perspektif yang berbeda, hasil yang berbeda) atau malah kita bisa menjadi kaya akan pemahaman (Oh, ternyata bisa juga lho dilihat dengan cara yang beda maka hasilnya juga beda).

Ironisnya, adakalanya ketimbang meributkan hal-hal besar, banyak orang yang justru terjatuh dalam keributan akan hal-hal yang remeh-temeh, sepele. Menanak nasi terlalu lembek, sayur asem kemanisan atau karena minum kopi kegareman (salah ambil, maksudnya), kita bisa jadi ribut. Jadi, banyak orang sepertinya memang melatih diri hingga mahir dari hal-hal yang sepele untuk ribut, sehingga saat hal-hal besar datang, ya gak buang sama sekali: ribut makin besar juga.


Jemaat di Efesus (sayangnya) sudah terlatih mengenai hal itu: Terlatih untuk ribut tentang perkara-perkara "remeh-temeh" tentang perbedaan yang ada di antara mereka. Perikop kita hari ini tidak terlalu menggambarkan konflik yang terjadi saat itu karena perikop kita (Efesus 4:1-7) adalah jawaban konkret atas situasi panas yang terjadi di dalam jemaat, misalnya dalam Efesus 2:11-14.

Hari ini saya mau mengajak kita untuk merenungkan dua hal saja.

Yang pertama, ayat 7 Perbedaan bukanlah kesalahan. Kesalahan adalah orang yang menyalahgunakan perbedaan itu sebagai alat untuk "menghancurkan yang lain".

Sejarah sudah menunjukkan pahitnya memandang perbedaan itu sebagai alat untuk "menghancurkan yang lain". Hitler dengan bangsa Arya-nya (Chauvinisme) atau tengok saja tragedi-tragedi di Indonesia karena persoalan perbedaan ... Apakah kita mau pahit terus seperti itu di masa kini?

Yang terakhir, ayat 2-4 Daripada kita ribut karena hal-hal yang berbeda antara kita (apalagi perbedaan itu memang adalah sesuatu yang "sudah diatur dari sononya begitu"), bukankah lebih baik kita tetap mencari persamaan-persamaan antara kita yang berbeda ini?

Keributan akan selalu bisa ditaklukkan apabila setiap kita mengingat persamaan-persamaan yang ada di antara kita.

Membaca Efesus 4:2-6, saat seseorang mulai tergoda untuk memulai pasang muka cemberut, mata mulai melotot, nada makin meninggi, Tuhan hanya berkata sedikit kepada kita untuk mengingatkan dan menyadarkan kita: "Dia itu bukan musuhmu".

Sesungguhnya musuh itu tidak ada. Yang ada adalah saudara yang berlainan pendapat. (Mahatma Gandhi)

Efesus 4:1-6 | Bukan Musuh

bertengkar
Tema kita hari ini tentang perbedaan. Kita semua tahu bahwa yang namanya perbedaan adalah sesuatu yang tidak terelakkan. Sejak penciptaan, Tuhan memang sudah menciptakan perbedaan: ada laki-laki dan ada perempuan. Kalau begitu, perbedaan adalah sesuatu yang memang dirancangkan oleh Tuhan sendiri sebagai karunia dan anugerah bagi kita.

Akan tetapi sayangnya sejak awal juga kita tahu bahwa misalnya di Kejadian 11, tentang menara Babel, perbedaan juga bisa berarti (dalam tanda petik) "hukuman" bagi manusia: karena gak ada perbedaan (satu bangsa satu bahasa), orang jadi melawan Allah. Akhirnya Tuhan menciptakan tambahan perbedaan diantara manusia sejak saat itu.

Di zaman sekarang, memandang perbedaan sebagai karunia ataukah justru menjadi seperti "hukuman - kutuk" selalu menjadi pilihan yang harus kita ambil salah satunya dalam sebuah kebersamaan.

Saya mau ambil contoh yang sederhana pak bu ... Saya punya beberapa gambar:


Dari situ saja kita bisa jadi ribut karena perbedaan (perspektif yang berbeda, hasil yang berbeda) atau malah kita bisa menjadi kaya akan pemahaman (Oh, ternyata bisa juga lho dilihat dengan cara yang beda maka hasilnya juga beda).

Ironisnya, adakalanya ketimbang meributkan hal-hal besar, banyak orang yang justru terjatuh dalam keributan akan hal-hal yang remeh-temeh, sepele. Menanak nasi terlalu lembek, sayur asem kemanisan atau karena minum kopi kegareman (salah ambil, maksudnya), kita bisa jadi ribut. Jadi, banyak orang sepertinya memang melatih diri hingga mahir dari hal-hal yang sepele untuk ribut, sehingga saat hal-hal besar datang, ya gak buang sama sekali: ribut makin besar juga.


Jemaat di Efesus (sayangnya) sudah terlatih mengenai hal itu: Terlatih untuk ribut tentang perkara-perkara "remeh-temeh" tentang perbedaan yang ada di antara mereka. Perikop kita hari ini tidak terlalu menggambarkan konflik yang terjadi saat itu karena perikop kita (Efesus 4:1-7) adalah jawaban konkret atas situasi panas yang terjadi di dalam jemaat, misalnya dalam Efesus 2:11-14.

Hari ini saya mau mengajak kita untuk merenungkan dua hal saja.

Yang pertama, ayat 7 Perbedaan bukanlah kesalahan. Kesalahan adalah orang yang menyalahgunakan perbedaan itu sebagai alat untuk "menghancurkan yang lain".

Sejarah sudah menunjukkan pahitnya memandang perbedaan itu sebagai alat untuk "menghancurkan yang lain". Hitler dengan bangsa Arya-nya (Chauvinisme) atau tengok saja tragedi-tragedi di Indonesia karena persoalan perbedaan ... Apakah kita mau pahit terus seperti itu di masa kini?

Yang terakhir, ayat 2-4 Daripada kita ribut karena hal-hal yang berbeda antara kita (apalagi perbedaan itu memang adalah sesuatu yang "sudah diatur dari sononya begitu"), bukankah lebih baik kita tetap mencari persamaan-persamaan antara kita yang berbeda ini?

Keributan akan selalu bisa ditaklukkan apabila setiap kita mengingat persamaan-persamaan yang ada di antara kita.

Membaca Efesus 4:2-6, saat seseorang mulai tergoda untuk memulai pasang muka cemberut, mata mulai melotot, nada makin meninggi, Tuhan hanya berkata sedikit kepada kita untuk mengingatkan dan menyadarkan kita: "Dia itu bukan musuhmu".

Sesungguhnya musuh itu tidak ada. Yang ada adalah saudara yang berlainan pendapat. (Mahatma Gandhi)

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER